Lelaki penakluk’ bag 1

Masih tentangmu, lelaki penakluk hatiku
yg memporak porandakan dinding pertahanan jiwaku
Yang bermula dari senyum manis dan tatap kerinduan
Hingga ku terjatuh dan melenguh dalam pelukanmu
Hingga saat kemarau kerisauan kupanggul sepanjang usiaku
Aku sungguh tak ingin kisah ini Berakhir dengan jejak kenangan..

Layar televisi di hadapanku tak lagi berpendar.
Tatapan mataku kosong otakku tak mampu untuk
mencerna apapun yang aku lihat di layar kaca itu.
Pikiranku nyalang berlari dari tempatnya.
Dan dahiku berpeluh diperkosa kerapuhan…
Beberapa bulan lalu aku meninggalkan kotaku tercinta.
Dan ia mengantarkan aku ke bandara.
Burung besi itu merenggutku dari sisinya untuk sementara.

Kami berdua memang harus berjarak karena kami tinggal di negara yang berbeda.
Saat itu ia hanya berdiri kaku menatapku menghilang di lautan manusia
yang berdesak-desakan tanpa sela.
Perpisahan kali ini tidak seperti perpisahan sebelumnya…
Sebelumnya aku tak pernah merasa sesedih ini,
kenapa sekarang kakiku terasa berat Untuk melangkah,
hatiku berkata ingin slalu berada didekatnya dan aku tak ingin pergi jauh darinya,
aku tidak siap karena harus menghadapi kerinduan yg pasti sangat menyiksa.
Saat ini hanya ada janji untuk menjaga diri masing-masing dan berjanji segera bertemu kembali

Perpisahan ini tak terelakkan lagi.
Sejak awal kami bersama, aku hanya menghitung
hari demi hari hingga perpisahan ini akan tiba.
Berusaha menikmati setiap hari kebersamaan.
Membungkus dengan indah setiap torehan kenangan yang kami lewati berdua…

Dia seperti ada di alam lain.Dan dia kelihatan begitu gelisah
namun dia tak berkata sepatah katapun
dia diam menungguku untuk berbicara. Ruangan itu remang,
lampu kamar sengaja kami padamkan,
hanya ada cahaya bulan dan lampu halaman belakang
yang masuk melalui kaca jendela. Tapi cahaya yang minim itu
tak mampu menghalangiku memandang raut wajahnya yang tampan
yg terbaring di sampingku, menghadapku…

Punggung tanganku mengelus pipinya lembut.
Dia mengerjap seraya mengambil nafas panjang.
Aku mengecup bibirnya perlahan, hanya sesaat,
ia masih memandang jauh ke dalam mataku heran.
Berusaha menemukan apa yang aku sembunyikan…

“Aku tak bisa meninggalkannya saat ini” kataku lirih.
Ruangan itu mendadak hampa. “Kenapa?” tanyanya sedih,
seakan ingin mengkhianati pendengarannya.
“Ya. Aku tak ada pilihan lain… Maafkan aku.”
Kami diam. Terbius Pikiran masing-masing.
Lalu dia menyadari sebutir air mataku menetes
dan buru-buru mendekapku dalam pelukannya.
“Sayang, Maafkan aku! andai saja, dari awal kita tau kebersamaan ini tak
mungkin selamanya sesempurna seperti yang kita inginkan.”
Bahuku berguncang pelan dalam pelukannya.

“Tapi aku mencintaimu,” kataku serak setelah agak menguasai kesedihanku.
“Aku tau sayang. Aku tau. tukasnya Tapi aku tak bisa terus menerus
melihatmu menderita seperti ini. Kamu nggak pantas di sakiti.”
“Tapi sekarang aku sudah terbiasa sakit.” Kataku lirih…
“Aku harus kembali padanya. Itulah yang diinginkan keluargaku.”
“Apa dia lelaki yang baik?”
“Ya Dia baik. Seperti kamu, hanya saja dia dingin tak dapat mengerti dan memahami aku”
Seperi kau memahamiku, mencintaiku, menyayangi dan mengasihi aku,
Dan malam itu mataku tak mampu terpejam,
melewati menit-menit terakhirku dalam pelukannya.
Merekam halus simfoni nafasnya. Melukis detail wajahnya di kanvas hati.
Aku mencintainya. Meski tanpa janji sehidup semati,
dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat. Sesederhana itu…
ya hanya itu…. dan akupun terlelap dalam peluknya….

Bersambung ke bag II.

Comments
kalau jodoh,tidak akan lari kemana! pertemuan selalu diiringi oleh perpisahan
@putri: hi arik salam kenal thanks sdh mmpir ke blog saya…
gue juga pernah ngalamin yg semacam ini..
putri: hay tayuza thanks ya dh mmpir ke blog aq. hemm emg km prnh ngalamin jg ya
sedih!!!
@putri: mksih say dh luangin wktu visit my blog